Sekolah Full Day, Jadi Pilihan
BANYUWANGI-Tidak sulit menemukan kompleks SD Unggulan Habibulah. Lokasinya tepat di Jalan Raden Wijaya, Kelurahan Giri, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Sebuah papan nama berukuran 3x5 meter terpampang di sisi timur jalan tersebut.
Setelah masuk 50 meter ke arah timur, terdapat gapura megah bertuliskan Pondok Pesantren Habibulah. Selepas bangunan tersebut, beberapa gedung sekolah hingga musala terlihat di dalamnya.
Merujuk namanya, sekolah ini memiliki nuansa khas religius Islam. Keseimbangan materi umum dan agama menjadi pedoman pokok bagi tenaga pengajarnya untuk mendidik seluruh siswa di sekolah tersebut.
Dalam terminologi modern, SD Unggulan Habibulah mencoba memadukan keseimbangan ilmu pengetahuan (iptek) dan teknologi dengan iman serta ketakwaan (imtak). Komposisi pembelajaran materi umum dan agama diseimbangkan dengan komposisi perbandingan 50 : 50 persen (fifty fifty).
Perpaduan ini membuat beban jam belajar siswa menjadi bertambah. Setiap hari, siswa wajib mengikuti program belajar mulai pukul 06.30 hingga 15.30. Siswa hanya dikenakan dua kali waktu istirahat setiap hari.
SD Unggulan Habibullah menerapkan hari efektif belajar berbeda dengan sekolah umum. Sekolah umumnya libur pada hari Ahad.
Namun di sekolah ini, hari efektif belajar mulai Sabtu hingga Kamis. Siswa berkesempatan libur sekolah pada hari Jumat. Sesuai konsepsi Islam, hari Jumat diyakini sebagai hari bebas, karena dalam bahasa asalnya berarti hari kebebasan (friday = freeday).
Meski kerap dipandang sebagai sekolah pinggiran, peminat sekolah yang didirikan 2 Juni 1995 ini tidak pernah sepi. Membeludaknya siswa membuat pihak sekolah harus menggelar seleksi untuk menjaring calon siswanya. Materi tes masuk meliputi materi umum dan keagamaan, sesuai kurikulum yang diterapkan sekolah.
Program seleksi ini pun membawa hikmah tersendiri bagi sekolah. Segudang prestasi gemilang pun ditorehkan siswanya. Mereka sudah tiga kali meraih nilai Ujian Nasional (unas) tertinggi tingkat Provinsi Jawa Timur.
Kini, terdapat 175 siswa yang belajar di sekolah tersebut. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Kebijakan khusus pun ditempuh bila terdapat kedapatan ada orang tua siswa yang kurang beruntung secara ekonomi. Solusinya, sekolah menerapkan subsidi silang dalam hal penerapan biaya sekolah.
Bukti konkretnya sekolah menyediakan bus sebagai jasa antar jemput siswa. Kendaraan ini pun gratis. Siswa tidak dikenakan charge terhadap biaya perawatan hingga BBM. Belum lagi fasilitas asrama bagi siswa yang benar-benar ingin tinggal di kawasan sekolah.
Karenanya, memimpin sekolah sekelas SD Unggulan Habibullah bukan perkara yang gampang. Segudang cibiran terkait model sistem pembelajaran yang diterapkan sempat menjadi sasaran keresahan orang tua.
Ketakutan mulai lamanya belajar siswa hingga kekhawatiran timbulnya kecapekan dalam diri siswa terlau serinng mencuat ke permukaan. Perasaan yang tentu saja masih dapat dipandang manusiawi. Namun bila orang tua sudah menelusuri dan tahu bagaimana di dalamnya, boleh jadi akan lain urusannya.
Kepala SD Unggulan Habibullah, Mohamad Kholil mengatakan keluh kesah tersebut acapkali didengarnya. Menurutnya, hal itu wajar sebagai bentuk kasih sayang orang tua terhadap anak. Dalam paradigma, orang tua kerap ada pemandangan yang keliru.
Bermain dan belajar sebenarnya merupakan aktifitas anak yang bisa dilakukan di rumah. Namun di lingkungan sekolah, proses tersebut dapat berjalan lebih aman dan terkendali. Waktu yang lama di sekolah bukan berarti siswa tidak bisa bermain. "Ini yang harus diluruskan," ujarnya.
Menyikapi pandangan tersebut, pihak sekolah sudah memikirkan dan menyiapkan jawaban atas keresahan tersebut. Kholil menjelaskan, materi proses pembelajaran di sekolahnya dikemas menggunakan pola bermain dan belajar. Siswa tidak hanya dituntut kosentrasi pada kewajiban menyerap meteri pelajaran. Tetapi kesimbangan kebutuhan belajar juga diperhatikan. " Jadi siswa hanya belajar. Tapi mereka juga bisa bermain di sekolah," katanya.
Kholil menjelaskan, dalam setiap kelas, seluruh siswa dibekali masing-masing dengan komputer kits. Saat rasa jemu menyerang atau bahkan siswa ingin bermain, guru kelas memperbolehkan anak didiknya untuk bermain sejenak. Model ini ternyata terbukti ampuh.
Siswa menjadi kerasan di sekolah. Beberapa mata pelajaran juga disampaikan dengan nuansa berbeda. Siswa berkesempatan merasakan belajar di alam terbuka (outbound). Selain mengenalkan alam, upaya ini ditujukan sebagia upaya siswa untuk senantiasa mensyukuri karunia Tuhan.
Sementara itu, menjadi salah satu bagian dari SD Unggulan Habibullah menjadi kebanggaan tersendiri bagi Humaidi Rizki Alfatsaif, 11. Siswa yang kini duduk di bangku kelas V ini menyatakan jika pilihan sekolah tempat dia menimba ilmu kini tidak salah.
Anak sulung dari dua bersaudara menuturkan sebelum masuk ke SD Habibullah dia sempat dihadapkan pada banyak pilihan sekolah. Tidak hanya dirinya, kedua orang tuanya pun menawarkan daftar nama sekolah yang akan dipilihnya. "Tapi saat itu saya mantap pilihan SD Habibullah. Sekolahnya beda dari yang lain," katanya.
Humaidi mengatakan sekolahnya dirasakannya cukup nyaman. Jauh dari jalan raya dan masyarakat sekitar sekolah juga mendukung. Suasana sekolah jadi enak dan kosentrasi tidak gampang buyar.
Belum lagi materi yang diajarkan disajikan cukup variatif. Gabungan pelajaran bernuansa religius dan umum membuat Humaidi merasakan gairah tersendiri dalam belajar. "Bahasa Inggris dan Bahasa Arab gimpil(mudah) 15 menit selesai. Tapi pas bahasa daerah bisa sampai jam ulangan selesai kadang belum kelar," ujarnya.
Sedangkan soal lamanya waktu belajar di sekolah, dia mengaku ada kalanya kejenuhan dirasakannya. Namun itu tidak lantas membuat Humaidi mengendurkan semangat sekolah. "Saya tidak sendiri. Di sekolah juga banyak teman. Jadi bosan cepat hilang," ujarnya. (nic/bay)
Copyright @2008 IT Dept. JAWA POS
Setelah masuk 50 meter ke arah timur, terdapat gapura megah bertuliskan Pondok Pesantren Habibulah. Selepas bangunan tersebut, beberapa gedung sekolah hingga musala terlihat di dalamnya.
Merujuk namanya, sekolah ini memiliki nuansa khas religius Islam. Keseimbangan materi umum dan agama menjadi pedoman pokok bagi tenaga pengajarnya untuk mendidik seluruh siswa di sekolah tersebut.
Dalam terminologi modern, SD Unggulan Habibulah mencoba memadukan keseimbangan ilmu pengetahuan (iptek) dan teknologi dengan iman serta ketakwaan (imtak). Komposisi pembelajaran materi umum dan agama diseimbangkan dengan komposisi perbandingan 50 : 50 persen (fifty fifty).
Perpaduan ini membuat beban jam belajar siswa menjadi bertambah. Setiap hari, siswa wajib mengikuti program belajar mulai pukul 06.30 hingga 15.30. Siswa hanya dikenakan dua kali waktu istirahat setiap hari.
SD Unggulan Habibullah menerapkan hari efektif belajar berbeda dengan sekolah umum. Sekolah umumnya libur pada hari Ahad.
Namun di sekolah ini, hari efektif belajar mulai Sabtu hingga Kamis. Siswa berkesempatan libur sekolah pada hari Jumat. Sesuai konsepsi Islam, hari Jumat diyakini sebagai hari bebas, karena dalam bahasa asalnya berarti hari kebebasan (friday = freeday).
Meski kerap dipandang sebagai sekolah pinggiran, peminat sekolah yang didirikan 2 Juni 1995 ini tidak pernah sepi. Membeludaknya siswa membuat pihak sekolah harus menggelar seleksi untuk menjaring calon siswanya. Materi tes masuk meliputi materi umum dan keagamaan, sesuai kurikulum yang diterapkan sekolah.
Program seleksi ini pun membawa hikmah tersendiri bagi sekolah. Segudang prestasi gemilang pun ditorehkan siswanya. Mereka sudah tiga kali meraih nilai Ujian Nasional (unas) tertinggi tingkat Provinsi Jawa Timur.
Kini, terdapat 175 siswa yang belajar di sekolah tersebut. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Kebijakan khusus pun ditempuh bila terdapat kedapatan ada orang tua siswa yang kurang beruntung secara ekonomi. Solusinya, sekolah menerapkan subsidi silang dalam hal penerapan biaya sekolah.
Bukti konkretnya sekolah menyediakan bus sebagai jasa antar jemput siswa. Kendaraan ini pun gratis. Siswa tidak dikenakan charge terhadap biaya perawatan hingga BBM. Belum lagi fasilitas asrama bagi siswa yang benar-benar ingin tinggal di kawasan sekolah.
Karenanya, memimpin sekolah sekelas SD Unggulan Habibullah bukan perkara yang gampang. Segudang cibiran terkait model sistem pembelajaran yang diterapkan sempat menjadi sasaran keresahan orang tua.
Ketakutan mulai lamanya belajar siswa hingga kekhawatiran timbulnya kecapekan dalam diri siswa terlau serinng mencuat ke permukaan. Perasaan yang tentu saja masih dapat dipandang manusiawi. Namun bila orang tua sudah menelusuri dan tahu bagaimana di dalamnya, boleh jadi akan lain urusannya.
Kepala SD Unggulan Habibullah, Mohamad Kholil mengatakan keluh kesah tersebut acapkali didengarnya. Menurutnya, hal itu wajar sebagai bentuk kasih sayang orang tua terhadap anak. Dalam paradigma, orang tua kerap ada pemandangan yang keliru.
Bermain dan belajar sebenarnya merupakan aktifitas anak yang bisa dilakukan di rumah. Namun di lingkungan sekolah, proses tersebut dapat berjalan lebih aman dan terkendali. Waktu yang lama di sekolah bukan berarti siswa tidak bisa bermain. "Ini yang harus diluruskan," ujarnya.
Menyikapi pandangan tersebut, pihak sekolah sudah memikirkan dan menyiapkan jawaban atas keresahan tersebut. Kholil menjelaskan, materi proses pembelajaran di sekolahnya dikemas menggunakan pola bermain dan belajar. Siswa tidak hanya dituntut kosentrasi pada kewajiban menyerap meteri pelajaran. Tetapi kesimbangan kebutuhan belajar juga diperhatikan. " Jadi siswa hanya belajar. Tapi mereka juga bisa bermain di sekolah," katanya.
Kholil menjelaskan, dalam setiap kelas, seluruh siswa dibekali masing-masing dengan komputer kits. Saat rasa jemu menyerang atau bahkan siswa ingin bermain, guru kelas memperbolehkan anak didiknya untuk bermain sejenak. Model ini ternyata terbukti ampuh.
Siswa menjadi kerasan di sekolah. Beberapa mata pelajaran juga disampaikan dengan nuansa berbeda. Siswa berkesempatan merasakan belajar di alam terbuka (outbound). Selain mengenalkan alam, upaya ini ditujukan sebagia upaya siswa untuk senantiasa mensyukuri karunia Tuhan.
Sementara itu, menjadi salah satu bagian dari SD Unggulan Habibullah menjadi kebanggaan tersendiri bagi Humaidi Rizki Alfatsaif, 11. Siswa yang kini duduk di bangku kelas V ini menyatakan jika pilihan sekolah tempat dia menimba ilmu kini tidak salah.
Anak sulung dari dua bersaudara menuturkan sebelum masuk ke SD Habibullah dia sempat dihadapkan pada banyak pilihan sekolah. Tidak hanya dirinya, kedua orang tuanya pun menawarkan daftar nama sekolah yang akan dipilihnya. "Tapi saat itu saya mantap pilihan SD Habibullah. Sekolahnya beda dari yang lain," katanya.
Humaidi mengatakan sekolahnya dirasakannya cukup nyaman. Jauh dari jalan raya dan masyarakat sekitar sekolah juga mendukung. Suasana sekolah jadi enak dan kosentrasi tidak gampang buyar.
Belum lagi materi yang diajarkan disajikan cukup variatif. Gabungan pelajaran bernuansa religius dan umum membuat Humaidi merasakan gairah tersendiri dalam belajar. "Bahasa Inggris dan Bahasa Arab gimpil(mudah) 15 menit selesai. Tapi pas bahasa daerah bisa sampai jam ulangan selesai kadang belum kelar," ujarnya.
Sedangkan soal lamanya waktu belajar di sekolah, dia mengaku ada kalanya kejenuhan dirasakannya. Namun itu tidak lantas membuat Humaidi mengendurkan semangat sekolah. "Saya tidak sendiri. Di sekolah juga banyak teman. Jadi bosan cepat hilang," ujarnya. (nic/bay)
Copyright @2008 IT Dept. JAWA POS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar